Facebook
RSS
Warta Jawi " Hangaturaken Sugeng Ariadi ", mugya ing dinten fitri, sedaya kalepatan kula panjengan sedaya pikantuk ampunanipun Gusti Ingkang Murbaeng Dumadi. Amien "

Petilasan Tunggul Wulung

-
Poenk Poerwa

Ngrembug petilasan " Tunggul Wulung " sampeyan kabeh aja kaget. Amarga sing jenenge petilasan iki akeh cacahe. Miturut cerita Kang Cholik sing sempat tak dadeke sumbering crita iki. Petilasan ki ora mung gek sak nggon. Nanging ono pirang-pirang desa atawa tlatah kang duwe petilasan nganggo jeneng padha " yaiku " " Eyang Tunggul Wulung", " Mbah Tunggul Wulung" lan liya-liyane, sing mesti ana "Tunggul Wulung"

Miturut Kang Cholik , sing diarani petilasan iki yo mung peninggalane Mbah Tunggul Wulung, dene makam kang ana petilasan kuwi mung makame prajurit kang diutus dening "Mbah Tunggul Wulung". Biasane petilasan kuwi didadeke punden kang dikramatke marang penduduk desa kang kanggonan. Punden kuwi dianggep punjere / asal-usule ngadeke satunggaling desa.
Bab petilasan " Tunggul Wulung ", penulis pikantuk pirang-pirang sumber muga-muga bisa nggo pembanding. Ora digawe ngalahke siji lan sijine :

Bambu Petung Tulak Berdaun Putih Keemasan

Muncul Rebung bila Presiden Baru

TANDA-TANDA Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi Presiden RI sudah bisa ditebak oleh warga Desa Wates, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Di kebun milik Ny Daryonah (70) terdapat rumpun bambu yang mempunyai keanehan.
Ada sembilan pohon bambu yang tumbuh tidak seperti yang lain. Daunnya berwarna putih keemasan. Apabila ada tunas baru atau rebung yang muncul itu tanda akan terjadi pergantian kepemimpinan nasional.
Bambu itu oleh warga dikeramatkan karena dianggap berkekuatan magis. Tak jauh dari rumpun bambu itu terdapat bangunan yang di dalamnya terdapat cungkup. Tempat itu konon merupakan petilasan Tunggul Wulung. "Bambu ini oleh warga dinamai Petung Tulak,"ujar juru kunci petilasan, Suparno (70), didampingi Kaurtrantib Kecamatan Wonotunggal Kirmani.
Satu rumpun bambu yang pohonnya mempunyai keanehan itu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Tunggul Wulung di Dusun Pungangan. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Kiai Jumari, Kiai Rajut, Sutarman, dan Tarnyan yang dikenal sebagai tokoh spritual.

Suparno mengungkapkan, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto bambu yang mempunyai daun keemasan itu hanya tujuh pohon. Selama kurun waktu, pemerintahan Orde Baru itu tidak pernah muncul tunas atau yang biasa disebut rebung yang tumbuh sampai besar.
"Keanehan bambu ini, rebungnya bisa tumbuh tapi tidak bisa besar. Kadang setelah muncul, beberapa saat kemudian mati," tutur Suparno.
Keanehan
Dia menceritakan, setelah Pak Harto lengser memang tumbuh rebung tapi umurnya tidak panjang. Saat pemerintahan RI dijabat Presiden BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid sampai Megawati Sssoekarnoputri, rebung itu tidak tumbuh menjadi pohon bambu.
"Inilah keanehan bambu Petung Tulak. Seolah-olah bisa mengetahui apakah yang akan menjabat presiden itu lama atau tidak, bisa terlihat dari rebung yang bisa tumbuh menjadi pohon bambu yang daunnya berwarna putih keemasan itu."
Karena diyakini mengandung gaib dan kekuatan, tidak ada seorang pun warga yang berani mengambil rebung itu untuk dijadikan sayur. Karena tidak seperti rebung lainnya, tunas bambu yang daunnya berwarna putih keemasan itu keras.
"Saya tidak berani mengambil rebung. Karena ada kekuatan gaib, tunasnya kuat sekali," ucap Ny Daryonah.
Keanehan muncul pada tahun awal 2004, dua rebung muncul. Keduanya tidak seperti biasanya karena tumbuh menjadi besar.
"Saat itu, kami mendapat penjelasan dari sesepuh dan tokoh spritual bahwa pada saatnya nanti akan tumbuh dua pohon bambu. Ternyata benar karena bersamaan dengan munculnya pohon bambu itu ada pergantian pemimpin, yaitu dari Bu Mega dan Pak Hamzah yang akan digantikan Pak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden dan Pak Jusuf Kalla sebagai wakil presiden," papar Suparno.
Dua rebung yang tumbuh menjadi sembilan itu juga diyakini sebagai simbol perbaikan tatanan baru. Sebab, jumlah sembilan merupakan angka kejayaan.
"Orang Jawa bilang, angka sembilan itu angka kejayaan. Semoga bangsa Indonesia jaya."
Setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon banyak orang yang bersemedi di cungkup petilasan Tunggul Wulung. Di Desa Wates, banyak ditemukan lokasi situs bersejarah dengan kewalian.
Tunggul Wulung oleh masyarakat Wates dari cerita turun-temurun adalah ahli pembuat keris. "Tunggul Wulung ada yang menyebutkan dengan nama lain, yaitu Empu Supo. Dia adalah empu yang hidup saat zaman Wali Sanga, yaitu Sunan Kalijaga,"ujar Kirmani yang dahulu pernah diangkat menjadi pejabat sementara kades Wates.

Leave a Reply