Facebook
RSS
Warta Jawi " Hangaturaken Sugeng Ariadi ", mugya ing dinten fitri, sedaya kalepatan kula panjengan sedaya pikantuk ampunanipun Gusti Ingkang Murbaeng Dumadi. Amien "

Acara PADA Mantenan

-
Poenk Poerwa

Setelah pengantin putra berganti dengan beskap pengantin, baru deh upacara panggih dapat dimulai. Upacara Panggih ini sebenarnya asli tradisi Jawa untuk pengantin. Jadi kan kalau dalam Islam itu sah nya setelah Ijab Kabul. Kalau tradipengantin putrayarakat Jawa, sah nya itu setelah dilpengantin putrikan upacara panggih. I love upacara panggih karena mempunya makna yang segudang dan dalam. I will tell u all in the detail arti dari setiap prosesi yang dilpengantin putrikan..


Upacara panggih didahului dengan Upacara Pasrah Sanggan. Ini adalah acara dimana wakil ibu dari mempelai pengantin pria menyerahkan tebusan pisang sanggan kepada mama saya. Pisang sanggan ini adalah syarat utama sebelum upacara panggih di mulai. Setelah dilihat syaratnya sudah lengkap, pisang sanggan ini diserahkan kepada Anggoro, adikku. Dan prosesi berikutnya bisa di mulai.


Prosesi berikut adalah prosesi tukar kembang mayang, yaitu penukaran sepasang kembar mayang dari mempelai wanita dengan sepasang kembar mayang dari mempelai pria. Kembar mayang ini menurut mitos Jawa dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Dewandaru mempunyai arti wahyu pengayoman. Maknanya adalah agar pengantin pria dapat memberikan pengayoman lahir batin kepada keluarganya. Sedangkan Kalpandaru, berasal dari kata kalpa yang artinya langgeng dan daru yang berarti wahyu. Maksudnya adalah wahyu kelanggengan, yaitu agar kehidupan rumah tangga dapat abadi selamanya.

Para pembawa kembar mayang ini adalah sahabat-sahabat baik kita. Para wanita mengenakan kebaya cantik warna hijau segar dan para pria mengenakan beskap berwarna hijau juga. Pada saat acara tukar kembar mayang, antara kembar mayang dari pihak mempelai wanita dan mempelai pria, ujung-ujung kembar mayangnya diadu, pertanda memadu kasih antara pihak wanita dan pria. Baru kemudian ditukar.

Sepasang kembar mayang ditaruh di depan pelaminan. Kemudian sepasang kembar mayang ditaruh di dekat meja penerima tamu. Setelah panggih kembar mayang tersebut kemudian dibuang di perempatan jalan dekat rumah. Naah pada saat membuang sepasang kembar mayang dari pihak wanita, kedua buah bokor dan 2 buah nanas yang ditancapkan diatas kembar mayang, dibawa kembali ke rumah pengantin wanita. Konon katanya, yang memakan buah nanas dari kembar mayang ini akan cepat mendapatkan momongan. Jadi setelah acara selesai pengantin putri langsung disuruh mam nanas itu.

Setelah upacara tukar kembar mayang selesai baru deeehh Upacara Panggih dimulai. Dibuka dengan Upacara Balangan Gantal. Hihihi disini pengantin putri udah seneng banget, soalnya bisa ketemu si maaass… ^_^Pengantin putri dan pengantin putra dipertemukan di teras rumah, tentunya sambil diapit oleh wakil kedua bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah mantu yaah. Setelah dekat dengan jarak kira-kira 3 meter kita pengantin putraing-pengantin putraing  melempar gantalan. Gantalan itu terbuat dari sirih dan konon katanya yang melempar terlebih dahulu (dan kena ke tubuh pasangannya) akan “mendominasi” rumah tangganya.



Upacara ini mengandung arti bahwa suatu peristiwa yang sekilas namun tidak dapat diulangi lagi. Sirih yang diikat sebagai gantal juga menandakan bahwa pengantin wanita dan pria sudah terikat dan akan menikmati pahit dan nikmatnya dunia bersama-sama. Sirih ini juga menandakan rasa pahit/getir. Seharusnya sih pengantin wanita mengarahkan gantal ke lutut pengantin pria.

Kemudian setelah upacara balangan gantal dilanjutkan dengan Upacara Mecah Wiji Dadi / telur ayam. Telur ayam disini melambangkan agar kedua pengantin dapat mempunyai keturunan. Telur ayam juga melambangkan manunggalnya pria dan wanita seperti pecahnya telur berupa putih dan merah. Putih menggambarkan pria dan merah menggambarkan wanita.

Di sini pengantin putra akan menginjak telur ayam. Dan pengantin putri akan jongkok untuk membasuh kaki pengantin putra dan kemudian dibersihkan dengan handuk yang tersedia.  Ini menandakan tanda bakti pengantin wanita kepada pengantin pria, ini juga menandakan bahwa segala kesalahan pengantin pria sudah dimaafkan oleh pengantin wanita (mensucikan). Kemudian pengantin putra membantu pengantin putri untuk berdiri dan membimbingnya di sisi kirinya..

Upacara selanjutnya adalah Upacara Sindur Binayang. Pada upacara ini pengantin putri dan pengantin putra dikemuli sindur oleh mama pengantin putri dan berjalan menuju ke pelaminan didahului oleh bapa pengantin putri. Mama berjalan di belakang pengantin putri dan pengantin putra sambil merangkul bahu pengantin berdua. Makna dari upacara ini adalah kedua orang tua memberikan ‘panjurung donga pangestu’ kepada kedua anaknya. Bapak memberikan Suri Tauladan dengan harapan pengantin pria dapat menjadi Suri Tauladan yang lebih baik kepada istrinya. Dan Ibu memberikan dorongan/dukungan kepada kedua pengantin.

Setelah sampai di kursi pelaminan, bapa pengantin putri duduk di kursi pengantin. Kemudian pengantin putri dan pengantin putra disuruh duduk dipangkuan kanan dan kiri papa. Pengantin putra di sebelah kanan dan pengantin putri di sebelah kiri. Kemudian si mama berdiri di depan pengantin sambil bertanya “ABOT ENDI PAK ??” (terjemahannya : “BERAT YANG MANA PAK ?”) dan kemudian si papa menjawab “PADA ABOTE BU” (terjemahannya : “BERATNYA SAMA BU..”).  Ini namanya Upacara Bobot Timbang / Pangkon. Upacara ini mengandung makna bahwa antara anak sendiri dengan anak menantu bagi orangtua tidak ada bedanya.

Selesai dengan acara menimbang pengantin putri dan pengantin putra, papa berdiri dihadapan pengantin putri dan pengantin putra untuk melaksanakan Upacara Tanem, yakni mendundukan pengantin putri dan pengantin putra diatas pelaminan dengan jalan meletakkan tangan kiri diatas bahu kiri pengantin putri dan tangan kanan di atas bahu kanan pengantin putra. Upacara ini mengandung makna bahwa orang tua mendoakan kedua mempelai untuk hidup rukun bahagia dan sejahtera sampai kaken-kaken dan ninen-ninen.



Upacara selanjutnya  Upacara Ngunjuk Rujak Degan. Di sini dimulai oleh papa dan mama minum rujak degan yang dilanjutkan dengan pertanyaan si mama kepada papa “KEPRIYE RASANE PAK ?” (terjemahan: “RASANYA BAGAIMANA PAK  ?”) Si papa kemudian menjawab “SEGER SEMIYAH SUMORAMBAH WONG SAK OMAH BU”. Kemudian diteruskan mama dan papa minum 3 sendok dan dilanjutkan oleh pengantin putri dan pengantin putra tiga sendokan.Makna upacara ini adalah membersihkan dan menyegarkan tubuh serta jiwa..

Setelah itu dilanjutkan dengan acara Kacar - kucur  pengantin putra bertanggung jawab untuk menafkahi pengantin putri. Ini arti dari Upacara Kacar Kucur. Pengantin putra menuangkan kacar-kucur kepangkuan pengantin putri secara hati-hati dan tidak boleh ada yang ketinggalan atau tercecer. Pengantin putra memberikan seluruh hasil jerih payahnya ke pengantin putri  namun pengantin putri juga harus dapat menjaga hasil jerih payahnya agar tidak terbuang sia-sia. Setelah kacar kucur diterima semuanya, kemudian selanjutnya diserahkan ke mama untuk disimpan baik-baik.

Dilanjutkan Upacara Dulangan / Dahar Klimah. Pengantin putri dan pengantin putra saling suap menyuapi nasi punar (nasi temanten), sebanyak tiga kali dengan menggunakan tangan. Tata cara ini melambangkan cumbu rayu dan saling memadu kasih antara kedua mempelai.

Selanjutnya Upacara Jemput Besan Martuwi. Jika mertua sendiri tidak hadir karena ada sebagian orang jawa yag melarang kehadiran orang tua pengantin laki-laki bisa diwakili oleh keluarga pengantin laki-laki yang dipasrahi oleh besan.

Kemudian saatnya pengantin putri dan pengantin putra mepengantin putra cincin kawin  / Upacara liru / rasuk kalpiko. Tinggal ditukar saja ke jari manis tangan kanan..

Karena papa dan mama kita sudah komplit di pelaminan, saatnya pengantin putri dan pengantin putra sungkeman Sungkeman ini dimulai dengan sungkeman kepada papa mama ku baru kemudian ke papa mama nya pengantin putra.

Pada waktu sungkeman ini, keris pengantin putra harus dilepaskan begitu juga selop pengantin putri dan pengantin putra.

Selesai sungkeman, dilanjutkan dengan Upacara Bubak Kawah deeh.. calon korban disini adalah si Anggoro (adekku). Si Anggoro akan membawa bubak kawah ke tengah tamu-tamu untuk diperebutkan. Pengantin putri suka banget sama bubak kawah dari Kamaratih. Dibungkus hijau dengan hiasan bunga warna kuning.

Bubak Kawah selesai tinggal Upacara Tumplak Punjen deh. Awalnya sih serius. Pengantin putri, pengantin putra dan Anggoro duduk berjejeran. Kemudian si Anggoro membaca teks tumplak punjen dan di balas oleh si papa. Kemudian pengantin putri, pengantin putra dan Anggoro sungkem kepada papa mama dan kemudian kita bertiga diberikan semacam “uang jajan terakhir” yang tidak boleh dibelanjakan. Kemudian setelah itu si mama dan papa membagikan pundi-pundi kepada para sesepuh pertanda ini adalah acara mantu mereka yang terakhir. Dan diakhiri dengan acara saweran deeh.. Bagi-bagi kepada tamu. Disini juga seru beneer deeh..

Leave a Reply